PENGUATAN PERAN SASTRA ANAK DALAM MENINGKATKAN BUDAYA MEMBACA DI SEKOLAH DASAR
PENGUATAN PERAN SASTRA ANAK DALAM MENINGKATKAN
BUDAYA MEMBACA DI SEKOLAH DASAR
Endah Ratnasari
Abstrak
Artikel
ilmiah ini bertujuan untuk menekankan peran sastra anak dalam meningkatkan
budaya membaca anak-anak di sekolah dasar. Sastra anak merupakan salah satu
jenis sastra yang keberadaan dan kepentingannya masih terpinggirkan dan belum
begitu dipertimbangkan. Di sisi lain, budaya membaca khususnya bagi anak-anak
sekolah dasar mulai tergantikan dengan adanya kemajuan teknologi seperti gadget dan hal lainnya. Sebagai suatu cerminan kehidupan yang
ditulis dengan format yang lebih sederhana dan tampilan yang menyenangkan,
sastra anak adalah media yang efektif untuk membangunkan kembali budaya membaca
yang sudah memudar ini. Dengan membaca, anak-anak akan memahami nilai nilai
kehidupan dan kemanusiaan serta membentuk kemampuan kognitif anak dengan cara
yang lebih menghibur. Anak-anak sekolah dasar yang pada umumnya berusia tujuh
sampai dua belas tahun sedang berada pada masa yang produktif untuk mengenal
tantangan menganalisis suatu hal, sehingga budaya membaca sejak usia dini
sangat diperlukan. Untuk mendukung tercapainya hal tersebut, diperlukan usaha-usaha
dari beberapa pihak untuk menguatkan peran sastra anak dalam meningkatkan
budaya membaca anak-anak di sekolah dasar yaitu: (1) pemerintah, institusi
pendidikan dan lembaga yang berhubungan dengan pendidikan atau anak-anak, (2)
sekolah dan guru, (3) orang tua dan (4) penulis.
Kata
kunci: budaya membaca, sastra anak, anak-anak, sekolah dasar
Pendahuluan
Sebagai
salah satu negara berpenduduk terbanyak di dunia, Indonesia mempunyai sumber
investasi masa depan yang begitu besar yaitu anak-anak. Menurut data dari
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (2017), terdapat lebih dari 25
juta anak-anak yang mengenyam pendidikan di jenjang sekolah dasar pada tahun
ajaran 2016/2017. Jumlah ini merupakan
yang terbesar di antara jenjang sekolah lainnya dari TK sampai SMA/SMK. Walaupun
demikian, besarnya jumlah anak-anak SD di Indonesia belum diimbangi dengan
besarnya kesadaran akan pentingnya budaya membaca. Survey yang dilakukan oleh
UNESCO (2012) menunjukkan bahwa kesadaran membaca masyarakat Indonesia berada
pada angka yang sangat rendah yaitu 0, 001%. Angka ini tentunya sangat
memprihatinkan dan jauh dari cukup untuk mewakili jumlah penduduk Indonesia yang
sangat besar.
Membaca
merupakan salah satu aktifitas kognitif yang sangat berguna untuk menambah pengetahuan
dan memperluas cara pandang sesorang. Membaca adalah keterampilan dasar yang terintegrasi
dengan keterampilan lainnya seperti menulis dan menganalisis. Sebagai sebuah
keterampilan dasar, membaca merupakan kebutuhan yang menunjang kehidupan
seseorang bahkan menjadi media bertahan hidup. Lebih dari itu, membaca adalah
aktifitas dimana nilai-nilai kemanusiaan seperti toleransi, empati, tanggung
jawab dan saling menghormati dapat dipelajari dan ditumbuhkan. Berubahnya cara
dan pandangan hidup manusia di zaman milenial seperti sekarang ini tentu
menimbulkan dampak terhadap budaya membaca masyarakat Indonesia. Kemajuan
teknologi dan maraknya penggunaan media sosial adalah beberapa faktor yang menggeser
nilai analisis membaca menjadi praktis berdunia maya.
Sastra
anak merupakan media strategis yang dapat digunakan untuk membangunkan kembali
budaya membaca anak yang secara perlahan tergerus perubahan zaman. Sastra anak adalah
media pembelajaran yang disajikan dengan unsur kesenangan. Menurut Lukens
(1999: 10), sastra anak adalah suatu bentuk karya yang lebih dari tulisan
seorang penulis karena di dalamnya seseorang juga bisa mendapatkan kesenangan. Sastra
merupakan bentuk refleksi kehidupan dan interaksi manusia, sehingga membaca
karya sastra menjadi sarana memahami isu-isu kehidupan manusia dengan cara yang
lebih menghibur dan menyenangkan. Elemen-elemen sastra anak yang lebih ringan
dan mudah dipahami menjadikan sastra anak media ideal untuk memupuk budaya
membaca anak-anak SD di Indonesia. Oleh karena itu, artikel ini akan membahas
cara menumbuhkan budaya membaca anak-anak SD dengan penguatan peran sastra
anak.
Pembahasan
Sastra
anak merupakan salah satu jenis sastra yang keberadaan dan kegunaannya belum cukup
dipertimbangkan seperti jenis sastra lainnya di Indonesia. Menurut Purbani
(2009: 2), meskipun penerbitan buku bacaan anak di Indonesia mengalami
peningkatan yang pesat, tetapi peningkatan tersebut hanya bersifat kuantitatif
dan belum diikuti oleh peningkatan secara kualitatif. Meskipun genre atau jenis karya sastra anak sudah
semakin beragam, sastra anak masih
sangat minim mendapatkan kajian akademis dibandingkan jenis sastra lainnya. Lebih
dari itu, sangat sedikit universitas yang menawarkan mata kuliah sastra anak
sebagai mata kuliah utama (Purbani, 2009: 1). Hal ini menguatkan pandangan
terhadap sastra anak yang masih dianggap sebagai sastra nomor dua dan belum
dipentingkan oleh masyarakat. Keadaan ini tentunya sangat ironis mengingat
Indonesia mempunyai jutaan anak-anak yang membutuhkan sastra anak sebagai
sumber utama bacaan mereka.
Sastra
anak sendiri dapat didefinisikan sebagai karya sastra yang dibuat dan dirancang
khusus untuk anak-anak dengan memperhatikan karakter maupun sifat dasar mereka.
Sifat dasar yang dimaksud dapat berupa keceriaan, kesenangan, jiwa petualang,
penuh imajinasi dan tidak monoton. Hal ini sejalan dengan pendapat Lukens
(1999: 9) yang menekankan bahwa kesenangan merupakan elemen utama di dalam sastra
anak. Walaupun demikian, bukan berarti anak-anak tidak bisa memahami dan
belajar mengenai nilai-nilai kehidupan yang ada dalam cerita. Karena pengalaman
anak-anak belum sebanyak orang dewasa, mereka tetap bisa belajar tentang
nilai-nilai yang disampaikan dalam cerita dengan tingkat kerumitan yang lebih
rendah. Maka dari itu, sastra anak ditulis dengan bahasa yang lebih sederhana,
karakter dan latar yang dekat dengan kehidupan anak-anak, penambahan fantasi
dan tampilan bacaan yang lebih mencolok.
Sementara
itu Hunt et al (2002: 11) menyatakan bahwa sastra anak mempunyai fungsi
filosofis sebagai sarana pemberi unsur kesenangan dan fungsi praktis sebagai
media pembelajaran anak-anak terhadap tingkah laku masyarakat dan cara menyelesaikan
masalah-masalah di masyarakat. Cerita di dalam sastra anak yang merupakan
cerminan dari kehidupan nyata akan memberikan gambaran tentang isu-isu yang
terjadi di dalam masyarakat sehingga anak-anak akan bisa mengalami hal atau
masalah yang terjadi di dalam cerita tersebut secara tidak langsung. Dari
cerita yang mereka dalami dan hal yang mereka alami secara tidak langsung
tersebut, anak-anak akan belajar tentang nilai-nilai kemanusiaan yang terdapat
dalam cerita tersebut. Nilai-nilai kemanusiaan tersebut contohnya adalah
persahabatan, kasih sayang, toleransi, empati, saling menghormati, tanggung
jawab dan saling berbagi. Salah satu contoh sastra anak yang dapat mengajarkan
anak- anak tentang persahabatan, kasih sayang dan perasaan saling memiliki
adalah Charlotte’s Web karya E.B. White. Buku ini menyampaikan nilai-nilai kemanusiaan
tersebut dengan latar dan karakter yang dekat dengan anak-anak, yaitu hewan dan
peternakan. Buku tersebut juga ditulis dengan bahasa yang sederhana dengan
banyak ilustrasi hewan yang tentunya disukai oleh anak-anak.
Lebih
dari itu, sastra anak juga dapat membantu anak-anak untuk mempelajari bahasa.
Winch et al (2004: 336) mengatakan bahwa sastra anak berperan penting dalam
perkembangan lingusitik dan kognitif anak-anak serta sebagai pusat aktifasi
keterampilan berbicara dan mendengarkan. Sastra anak merupakan hasil seni
merangkai kata yang membebaskan penulisnya berekspresi dengan kata-kata, namun
memiliki format yang lebih sederhana. Oleh karena itu, sastra anak yang berupa
cerita pendek, novel, puisi, dan teks drama dapat menjadi sarana bagi anak-anak
untuk belajar tentang bahasa dan tatanannya dengan cara yang menyenangkan.
Anak-anak
sekolah dasar pada umumnya berumur dari tujuh sampai dua belas tahun. Usia ini
adalah usia yang produktif dan strategis bagi anak-anak untuk belajar mengenai
nilai-nilai kehidupan dan ilmu kebahasaan. Piaget (dalam Cook, 2005: 5-7)
mengatakan bahwa anak-anak akan mengalami tiga proses berpikir yaitu
organisasi, adaptasi dan reflective
abstraction atau penciptaan konsep baru dalam perkembangan kemampuan
kognitif mereka. Karena membaca bisa memberikan tantangan analisis kepada
anak-anak, budaya membaca pada anak usia sekolah dasar sangat diperlukan untuk
membentuk karakter maupun kemampuan kognitif mereka. Oleh karena itu, sastra
anak akan menjadi media pendukung yang tepat untuk membentuk budaya membaca
bagi anak-anak. Walaupun begitu, peran serta dari stakeholder atau pihak-pihak yang terlibat sangat diperlukan dalam
usaha menumbuhkan budaya membaca.
Pihak
pertama yang mempunyai peranan penting dalam hal ini adalah pemerintah,
institusi pendidikan dan lembaga yang berhubungan dengan pendidikan atau anak-anak.
Minimnya kajian ilmiah terhadap sastra anak adalah salah satu masalah besar
yang dihadapi oleh kalangan akademisi Indonesia, sehingga peningkatan kualitas
sastra anak di Indonesia masih terbilang belum signifikan. Dalam hal ini, pemerintah,
institusi pendidikan dan lembaga yang berhubungan dengan pendidikan atau anak-anak
akan menjadi pihak yang paling dipercaya oleh masyarakat untuk mengadakan
kajian maupun diskusi ilmiah tentang kualitas sastra anak dilihat dari alur
cerita, keberagaman tema maupun level ideologi. Selain itu, di tengah tren
lomba menulis karya sastra termasuk sastra anak di Indonesia, pemberian
penghargaan terhadap karya sastra anak terbaik sangat diperlukan. Dengan jumlah
anak-anak yang begitu besar, penghargaan kepada penulis hanya diberikan oleh
tiga lembaga setiap tahunnya (Purbani, 2009: 4). Pemberian penghargaan sangat
penting dilakukan untuk mendorong masyarakat supaya lebih kreatif dan inovatif
menciptakan karya sastra anak yang berkualitas. Selain itu, tidak jarang karya
yang mendapatkan penghargaan dijadikan acuan oleh masyarakat untuk belajar
lebih dalam tentang sastra anak. Lomba yang diadakan pun sebaiknya tidak hanya
lomba menulis karya sastra, tetapi meluas kepada lomba cipta metode pengajaran
karya sastra. Dengan metode yang beragam dan kreatif, anak-anak akan lebih
tertarik untuk membaca. Lebih dari itu, pemerintah dan institusi pendidikan
dapat mempertimbangkan sastra anak sebagai program atau bahan ajar penting yang
bersifat utama dan bukan pilihan, sehingga penggalakan sastra anak sebagai
media yang dapat menumbuhkan budaya membaca akan terpupuk dari anak-anak itu
sendiri maupun calon pengajar masa depan.
Pihak
kedua yang sangat penting dalam menumbuhkan budaya membaca adalah sekolah dan
guru. Tidak jarang perpustakaan di sekolah dasar mempunyai pengunjung yang
sedikit. Hal ini bisa disebabkan oleh faktor lain seperti penggunaan gadget saat jam istirahat, tetapi bisa
juga disebabkan karena variasi buku yang monoton sehingga tidak menarik minat
siswa untuk membaca. Selain melakukan kontrol terhadap penggunaan gadget saat jam istirahat, pihak sekolah
sebaiknya memperbaharui secara berkala buku bacaan dengan variasi tema maupun
bahasa dan mendorong kegiatan-kegiatan yang mengharuskan siswa membaca di
perpustakaan. Di sisi lain, guru juga bisa menciptakan suasana pengajaran yang
kreatif dan tidak monoton saat kegiatan belajar mengajar. Kreatifitas ini tidak
terbatas dari metode maupun media yang digunakan seperti penggunaan slide presentasi, boneka, wayang, maupun
permainan tradisional.
Pihak
ketiga yang harus turut serta dalam menumbuhkan budaya membaca adalah orang
tua. Orang tua mempunyai peranan penting untuk mendorong, memberikan fasilitas
dan mendampingi anak dalam kegiatan membaca. Orang tua sebaiknya menyediakan
buku bacaan secara berkala dan juga bervariasi. Tidak hanya itu, orang tua
perlu memilih buku apa yang tepat bagi bacaan anak dan mendampingi anak saat
mereka membaca karya sastra tersebut. Hal ini dilakukan bukan oleh mendikte
anak, tetapi memberikan solusi saat anak merasa kebingungan dan salah memahami
apa yang mereka baca. Dengan begitu, anak-anak akan merasa nyaman membaca dan
membawa kebiasaan itu dimanapun mereka berada termasuk di sekolah.
Pihak
terakhir yang berperan penting dalam menumbuhkan budaya membaca anak dengan
sastra anak adalah penulis. Penulis sebaiknya tidak hanya menulis karya sastra
populer atau karya sastra dengan target pembaca orang dewasa tetapi sekarang
sudah saatnya untuk lebih memperhatikan pentingnya karya sastra anak. Dengan
mempelajari hal-hal apa saja yang anak butuhkan dalam bacaan mereka dan
karakter dari anak-anak, karya sastra anak terbaik akan menjadi kontribusi
besar untuk perkembangan anak-anak sekolah dasar di Indonesia.
Kesimpulan
Membaca
adalah aktifitas kognitif yang berhubungan dengan keterampilan kognitif lainnya
seperti menulis dan menganalisis. Dengan membaca, seseorang akan belajar untuk
memahami isu dan nilai- nilai yang disampaikan dalam cerita. Maka dari itu,
budaya membaca harus ditumbuhkan sejak dini
dan anak usia sekolah dasar merupakan usia yang strategis untuk
memperkenalkan tantangan menganalisis buku bacaan. Mengantisipasi pergeseran
gaya hidup yang memudarkan budaya membaca, sastra anak adalah media efektif
untuk menyalakan kembali budaya membaca anak-anak. Peran serta pihak-pihak
terlibat yaitu (1) pemerintah, institusi pendidikan dan lembaga yang
berhubungan dengan pendidikan atau anak-anak, (2) sekolah dan guru, (3) orang
tua dan (4) penulis sangat diperlukan dalam penguatan peran sastra anak dalam
meningkatkan budaya membaca anak-anak di sekolah sekolah dasar.
Daftar Pustaka
Hunt, Peter et
all. 1999. Understanding Children’s
Literature. London: Routledge.
Indra, Rahman. 2017. Memaknai Buku dan Minat Baca di Hari Buku
Nasional 2017.
https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20170517114249-277-215422/memaknai-buku-dan-minat-baca-di-hari-buku-nasional-2017/.
Diakses pada 6 Oktober 2017.
Joan Littlefield Cook and Cook, Greg. 2005.
Child Development Principles and
Perspective. Boston: Allyn and Bacon.
Kementrian
Pendidikan dan Kebudayaan. 2017. Ikhtisar
Data Pendidikan tahun 2016/2017. Jakarta: Pusat Data dan Statistik
Pendidikan dan Kebudayaan.
Lukens, Rebecca J. 1999. A Critical
Handbook of Children’s Literature (Sixth Edition). New York: Longman.
Purbani, Wisdyastuti. 2009. Ideologi Anak Ideal Dalam Lima Fiksi Anak
Unggulan Indonesia Akhir Masa Orde Baru (Tesis). Depok: Universitas
Indonesia.
Winch G., Johnston. R. R., March P., Ljungdahl L., &
Holliday M. 2004. Literacy Reading, writing, and
children’s literature. Melbourne: Oxford
University Press.
Komentar
Posting Komentar