Kenapa Belajar Sastra Inggris itu Nggak Sama Dengan Belajar Bahasa Inggris
Kenapa Belajar Sastra
Inggris itu Nggak Sama Dengan Belajar Bahasa Inggris
Haloo, apakah diantara kalian ada
yang sedang belajar atau sudah menempuh pendidikan dengan jurusan Sastra
Inggris? Kalau iya, pasti enggak asing dengan pertanyaan atau pernyataan
semacam Sastra Inggris prospek kerjanya
dimana dan jadi apa sih, wah.. pasti jago bahasa inggris yaa atau eh kamu jurusan Sastra Inggris kan, minta
tolong transletin dong abstrak/ paper/essay ku. Duh..duh yakin deh pasti ada beberapa atau bahkan kebanyakan
diantara kalian yang muak dengan pertanyaan atau permintaan diatas. Apalagi dengan fakta bahwa
jurusan Sastra Inggris bukanlah jurusan yang sepopuler jurusan lain
seperti HI, teknik, hukum
maupun ekonomi. Nah maka dari itu, aku nulis artikel ini buat sharing aja nih pengalaman menjadi
mahasiswi jurusan Sastra Inggris dan semoga bisa memberikan pandangan baru bagi
orang-orang yang belum begitu mengerti tentang pentingnya jurusan ini.
1.
Mengenal perkembangan sastra itu
sendiri
Awal mulanya pelajaran sastra termasuk Sastra
Inggris adalah pelajaran yang hanya bisa diakses oleh kalangan masyarakat atas
seperti kaum bangsawan atau keluarga kerajaan. Secara tingkat literasi zaman
dahulu masih sangat rendah, sehingga orang dengan kemampuan membaca dan menulis
sangat dihormati karena mereka dianggap sebagai orang berpendidikan. Sastra
juga merupakan suatu seni yang bernilai tinggi, sehingga pertunjukan yang
berhubungan dengan sastra seperti teater atau puisi hanya dapat ditonton oleh kaum bangsawan aja. Bahkan
orang-orang yang mampu membuat sajak atau puisi dipandang sangat keren lo zaman
dulu. Nah apa yang terjadi sekarang? Sekarang
pelajaran sastra masih exist di
sebagian besar universitas
dan bisa dipelajari di program studi yang disediakan secara resmi oleh
universitas-universitas tersebut. Program
studi ini pun terbuka bebas bagi siapa aja yang mempunyai passion di bidang sastra, bukan lagi terbatas untuk kalangan
bangsawan. Tetapi value shifted kan,
ada perubahan nilai dan cara pandang di kalangan masyarakat kita yang mereduksi
kebermaknaan sastra di era sekarang. Sekarang, banyak yang bilang menantu atau
pacar idaman itu adalah anak-anak teknik yang bisa ngotak-atik robot atau mobil
dan anak-anak hukum atau ekonomi yang kerjanya adem di ruangan ber AC dengan
jas rapi ala executive muda.
Sedangkan anak sastra dengan kaos oblong dan rambut gondrong malah dianggap
geng anak berandalan. Belum lagi, kalo ada yang bikin puisi atau kata kata
mutiara malah dianggap sok romantis, lebay atau melow. Hayo..hayoo ada nggak
nih diantara kalian yang berpendapat sama dengan yang diatas tadi?
2.
Belajar Sastra Inggris itu 100%
berbeda dengan belajar bahasa Inggris
Pasti temen-temen, kenalan atau orang lain pada
suka tanya, “ kalau di Sastra Inggris itu ngapain aja sih?” terus ada yang
nyambung, “belajar grammar atau structure gitu gitu yaa?”. Nah..nah ini
adalah pertanyaan dari orang-orang yang mungkin emang bener-bener nggak tahu
atau mereka emang udah mengalami sesat pikir tentang Sastra Inggris nih. Perlu
diketahui bahwa belajar grammar,
structure, writing, listening dan hal-hal basic
di Bahasa
Inggris itu cuma secuil dari apa yang kita pelajari selama 4 tahun di kampus.
Jika di kampusku (yang mana aku yakin, universitas lain juga menawarkan mata
kuliah yang jauh lebih beragam dari Basic
English), ada 3 fokus konsentrasi yang ditawarkan yakni translation (ilmu terjemahan), linguistic (ilmu kebahasaan), dan literature (ilmu sastra). Kalau translation, ya kita belajar tentang
teori terjemahan dan aplikasi di berbagai jenis tulisan atau dokumen, sedangkan kalau linguistic, kita belajar tentang ilmu
kebahasaan seperti syntax dan discourse maupun ilmu kebahasaan yang
ada kaitannya dengan bidang
lain seperti sociolinguistic dan psycholinguistic, dll. Nah kalo literature, kerjaan
kita nggak cuma baca novel, nulis summary,
identifikasi plot, karakter, dsb yaa. Ya elah kalo kayak gitu doang anak
SMP juga bisa kan yaa. Lebih dari itu, di literature,
mahasiswanya dituntut untuk mempunyai kemampuan analisis yang tinggi. Kita
harus menguasasi berbagai teori sastra seperti Feminism, Psychoanalysis, Post-Colonialism, Marxism, Focalization, dll. Nah karena sastra itu sendiri adalah refleksi dari kehidupan manusia,
belajar sastra tentunya sangat berguna sekali untuk membentuk kesadaran kita
tentang nilai-nilai kemanusiaan seperti toleransi, saling menghargai, tanggung
jawab, kebijaksanaan, dll. Mengapa? Karena di setiap bacaan pasti ada nilai moral yang bisa kita
pelajari. Nah, bisa fasih bahasa Inggris itu efek sampingnya aja karena bahasa
pengantarnya pasti
bahasa Inggris. Mempelajari hal tersebut bukanlah hal yang gampang lho.
Bayangin aja, kita harus baca buku atau jurnal teori full bahasa Inggris yang literally bikin puyeng kepala dengan
istilah istilah yang bener-bener asing di kepala kita. Selain itu, di
semester-semester akhir setiap hari pasti diberi tugas berupa nulis essay
berlembar-lembar. Belum lagi, beberapa dari anak Sastra Inggris masih berjuang
dengan bahasa Inggris juga (secara Indonesia kan masih di level EFL: English as Foreign Language) . Kesimpulannya: anak sastra Inggris
itu nggak belajar bahasa Inggris doang, kalo cuma mau belajar bahasa Inggris
bisa kalik yaa kita ke kursusan atau bimbel yang sekarang udah menjamur
dimana-mana, nggak makan biaya banyak dan waktu yang lama.
3.
Anak Sastra Inggris Bukan Mas/ Mbak
‘Google’ Translate
Wah.. kalau yang ini aku yakin semua anak
Sastra Inggris pasti mengalami kejadian dimana orang-orang minta untuk
pekerjaan mereka di terjemahkan. Masalah besarnya ada dua nih:
- Mereka minta pekerjaan mereka diterjemahkan secara mendadak, berlembar-lembar dan dengan DL yang mepet. Mereka pasti berasumsi, “ah kamu kan anak Bahasa Inggris, pasti gini aja bisa cepet”. Nah, kalau tanya beberapa kata atau kalimat saja masih wajar sih, tetapi kalo berlembar-lembar ini mah namanya kebangetan. Ngomong-ngomong masalah yang pertama ini nih, aku juga ada pengalaman ada ‘temen’ yang meminta di translate dan dokumennya cuma di copy paste via BBM atau di screen shoot via Whatsapp. Dude, walaupun kita sehari-hari memakai bahasa Inggris bukan berarti kita tidak membutuhkan waktu atau fasilitas yang proper ketika menerjemahkan dokumen apalagi kita juga ingin memberikan hasil yang terbaik, ya kan...
- Mereka nganggep kita google translate, datang kalo dibutuhin pergi tak berbekas setelah urusan selesai. Hahaha.. ngerti lah ya maksudku. Dengan embel-embel temen, mereka pengennya dokumen mereka ditranslate secara cuma-cuma. Nah ada kan yang emang kita ikhlas ngebantu karena mungkin dia temen deket banget, atau emang kita pernah minta bantuan ke dia jadi mau balas budi atau ya emang seneng ajaa...tetapi ada juga orang-orang yang secara PD dan ‘tidak tahu diri’ meminta dan pergi begitu saja tanpa basa-basi ngomongin upah atau feenya. Bahkan ketika kita udah kode-kode kayak, “traktir yaa”, kemudian dia mengganti topik percakapannya dan menganggapnya angin lalu. Ya temen sih temen tapi jangan tega begitu sama kita yang pengennya bekerja secara profesional ini dong mas dan mbak. Kalau mau yang gratisan, silahkan menggunakan jasa translate online yang tersedia secara bebas di internet. Apalagi kita sudah berinvestasi dalam bentuk waktu, biaya dan energi untuk menimba ilmu tersebut, sehingga sedikit pemberian penghargaan akan sangat menyenangkan hati kita :’)
4.
Kalau lulusan Sastra Inggris besok
kerjanya dimana?
Aku yakin banget pasti ribuan lulusan Sastra
Inggris bakal ditanyain jurusan ini prospek kerjanya kemana. Ya wajar sih kalo
kebanyakan orang pada bingung karena memang jurusan Sastra Inggris bukan
jurusan praktis kayak Akuntansi yang pasti jadi akuntan atau pendidikan yang
ditujukan untuk menjadi pengajar. Tetapi lulusan jurusan Sastra Inggris justru
mempunyai banyak opsi pekerjaan sebagai contohnya (yang sudah ada): penulis,
penerjemah/intepreter, dosen, guru, karyawan di Kemenlu, karyawan UNDP,
karyawan start-up terkenal, staff NGO, karyawan di kantor imigrasi, staff di
badan atau lembaga pariwisata, banker,
dsb. Nah.. masih ada juga nih beberapa orang yang menyepelekan penulis sebagai
sebuah pekerjaan yang menghasilkan padahal kalau dia sudah berhasil menulis
buku yang laku di pasaran, dari penjualan setiap copynya dia bisa menghasilkan pendapatan tanpa harus susah payah
keluar rumah. Apalagi menjadi penulis adalah pekerjaan yang sangat menguras
pikiran dan ruang kreatifitas, sehingga pantas rasanya jika penulis harus dipertimbangkan sebagai
pekerjaan yang serius
dan berharga. Jadi, sama
seperti lulusan jurusan praktis lainnya, lulusan Sastra Inggris adalah
orang-orang dengan keahlian yang beragam dan tidak terbatas pada kemampuan
bahasa Inggris aja sehingga prospek kerjaan buat lulusan Sastra Inggris pasti beragam pula. Tentunya,
hal ini juga harus didukung oleh pihak-pihak penyedia jasa/ pekerjaan seperti
masyarakat, perusahaan dan pemerintah dengan memperbolehkan kita anak-anak Sastra Inggris
ini mengeksplore kemampuan dan keahlian yang kita miliki, ya toh?
Jadi, kesimpulannya:
- Buat temen-temen yang belum tahu tentang jurusan Sastra Inggris, semoga tulisan ini bisa memberikan pengetahuan dan pandangan baru tentang apa dan bagaimana jurusan tersebut.
- Buat temen-temen yang tahu tetapi berpikir bahwa Sastra Inggris jurusan remeh temeh atau nggak penting, semoga tulisan ini bisa memberikan kesadaran buat lebih menghargai anak-anak SasIng ke depannya.
Signing off and thank you!
Mami Endah memang terbaekk
BalasHapushahaha.. babagan translate tuh bener, kita kan belajar nya susah biar bisa nerjemahin yg bagus sama aja kaya' anak teknik kuliah supaya bisa jd insinyur
BalasHapusThank you Kak Riusly :))
BalasHapusIya bener banget kak Ocik :)
BalasHapus