Peranan Media Sosial Dalam Membangun Paradigma Terbuka Masyarakat
Peranan
Media Sosial Dalam Membangun Paradigma Terbuka Masyarakat
Endah Ratnasari
Isu-isu mengenai perbedaan
agama, diskriminasi dan intoleransi antar agama, radikalisme serta terorisme
sedang menajdi topik hangat belakangan ini. Adanya kelompok-kelompok radikal
yang mengatasnamakan agama dan secara membabi-buta menculik orang-orang tak
bersalah serta melakukan pengeboman di sejumlah tempat merupakan sumber
pertanyaan mengapa toleransi antar umat beragama semakin lama semakin pudar.
Krisis agama ini mulai terasa sejak kasus pengeboman World Trade Center di
Amerika Serikat pada tanggal 11 September 2001. Sejak saat itu kepercayaan umat
beragama satu dengan agama lainnya semakin terkikis dan terganti dengan
perasaan takut, benci, dendam, dan skeptis. Antar umat beragama memilki
kesenjangan berpikir yang teramat ekstrim, membenarkan segala hal dalam agama
mereka dan menyalahkan agama lainnya tanpa berpikir secara logis dan rasional. Sebutlah
kebijakan pelarangan beberapa negara muslim untuk masuk ke negara Amerika,
kebijakan racial-profiling yang
umumnya ditujukan untuk orang-orang yang identitas berkaitan dengan agama islam
atau beberapa permpuan berjilbab yang secara brutal dibunuh tanpa tahu apa
kesalahan mereka. Selain itu, beberapa kasus penembakan di Perancis seperti
yang terjadi di kantor majalah Charlie
Hebdo oleh oknum yang mengatasnamakan islam adalah bukti nyata bahwa umat
beragama berada pada level ketakutan tertinggi, sehingga nalar maupun kemampuan
berfikir rasional berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan dikesampingkan. Ditambah
lagi, kasus tuduhan penistaan agama yang ditujukan kepada salah satu gubernur
di Indonesia beberapa waktu yang lalu dan gerakan protes 212 semakin menambah
kompleks dan pelik permasalahan intoleransi antar-agama termasuk di Indonesia.
Di sisi lain, kemajuan
teknologi yang begitu cepat adalah tantangan terintegrasi bagi seluruh
masyarakat di era yang penuh dengan kompleksitas masalah antar-agama. Banyaknya
informasi yang dapat dengan mudah dan murahnya diakses dapat menjadi keuntungan
sekaligus bumerang bagi cara pandang seseorang. Hampir seluruh lapisan
masyarakat mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, maupun kakek-nenek fasih
menggunakan dan mengelola berbagai macam media sosial seperti facebook,
instagram, whatshapp, twitter, path, bbm dan lain-lain. Layaknya sebuah kutub
yang berlawanan, media sosial dapat menawarkan kemudahan dan keuntungan tetapi
disisi lain, media sosial juga dapat menjadi pemantik masalah antar manusia. Akan
menjadi media yang berguna atau tidak, tentunya itu bergantung dari manusia
sebagai pemakainya. Essay ini akan membahas lebih lanjut tentang peranan media
sosial untuk membangun paradigma terbuka terhadap isu keagamaan.
Realitas
Hubungan Masyarakat dengan Media Sosial
Indonesia
merupakan salah satu pengguna internet terbesar dengan angka mencapai 132 juta orang
dan 40% diantaranya merupakan pengguna aktif media sosial.
Teknologi yang terus berkembang dan berinovasi didukung pasar yang kompetitif
menciptakan celah bagi masyarakat kita untuk berada pada zona nyaman hidup
dengan smartphone maupun gadget lainnya. Ada dua kategori
pengguna media sosial. Pertama, orang-orang yang memang membutuhkan media
tersebut sebagai media komunikasi, membangun relasi dan keperluan profesional
lainnya. Sedangkan kategori kedua adalah, orang-orang yang hanya mengikuti
trend yang sedang terjadi tanpa begitu tahu manfaat dari apa yang mereka
lakukan. Tetapi pastinya, terdapat perbedaan cara hidup seseorang seiring
dengan berkembangnya teknologi karena sekarang seluruh kegiatan terpusat pada
sosial media.
Sebagai masyarakat modern, generasi milenial dan generasi Z merupakan pengguna yang pada umumnya mendominasi pemakaian sosial media di era ini. Keinginan untuk menunjukkan eksistensi diri, dikenal banyak orang, dan perasaan tidak mau kalah dengan teman sebayanya menjadi alasan mengapa generasi milenial dan generasi Z merupakan pengguna aktif sosial media. Mereka adalah generasi muda yang masih mematangkan pemikiran dan cara pandang terhadap suatu. Berinteraksi secara sosial memang menjadi sifat dasar manusia dan media sosial dengan segala fiturnya telah melebihkan fungsi interaksi ini ke berbagai hal.
Sebagai masyarakat modern, generasi milenial dan generasi Z merupakan pengguna yang pada umumnya mendominasi pemakaian sosial media di era ini. Keinginan untuk menunjukkan eksistensi diri, dikenal banyak orang, dan perasaan tidak mau kalah dengan teman sebayanya menjadi alasan mengapa generasi milenial dan generasi Z merupakan pengguna aktif sosial media. Mereka adalah generasi muda yang masih mematangkan pemikiran dan cara pandang terhadap suatu. Berinteraksi secara sosial memang menjadi sifat dasar manusia dan media sosial dengan segala fiturnya telah melebihkan fungsi interaksi ini ke berbagai hal.
Media
Sosial Membangun Paradigma Terbuka Terhadap Isu Keagamaan
Fenomena
Arab Spring yang terjadi beberapa tahun yang lalu merupakan fenomena
kebangkitan demokrasi rakyat yang menuntut kediktatoran pemerintah segera
dihentikan. Hal tersebut tersebut terjadi di beberapa negara seperti Mesir,
Tunisia dan Libya dan menjadi lebih fenomenal disebabkan oleh cuitan beberapa orang
di salah satu media sosial yaitu twitter. Hal ini menunjukkan
betapa dahsyatnya kekuatan media sosial mempengaruhi pikiran
dan arah hidup orang lain hanya dengan beberapa kalimat atau bahkan beberapa
kata saja. Media sosial tersebut bahkan membuat mereka memberikan kepercayaan terhadap
seseorang yang bahkan mereka belum kenal sekalipun. Dengan demikian, jika
digunakan dengan tepat media sosial dapat menjadi wadah strategis untuk menarik
perhatian sekaligus media pembelajaran masyarakat.
Sekarang,
kebebasan berekspresi diakui oleh semua negara demokrasi termasuk Indonesia.
Setiap pengguna media sosial bebas membuat akun, menulis pendapat maupun
mengunggah foto tentang apa yang mereka yakini termasuk isu tentang agama,
radikalisme, dan terorisme. Menurut Offe dalam Trottier
dan Fuchs (2014: 11), tipe masyarakat sosiopolitical
fokus terhadap gerakan sosial masyarakat dan menganggap terorisme adalah
sesuatu yang illegitimate atau
melanggar hukum. Dengan trend penggunaan media sosial, pertukaran informasi
tentang terorisme dan kejahatan agama lain akan semakin mudah diakses. Terlebih
lagi informasi tersebut disebarkan dengan cara yang menyenangkan dan menghibur
pembacanya. Berbeda halnya dengan informasi yang ditawarkan media konvensional
yang mungkin terkesan formal, informasi di media sosial seperti twitter,
instagram dan facebook dikemas dalam postingan yang menarik seperti adanya
video, meme, gambar berdesain, story, dan
sebagainya. Media sosial dapat memikat lebih banyak pembaca dari berbagai
lapisan masyarakat termasuk generasi milenial dan generasi Z.
Media sosial adalah tempat memperluas jaringan. Rheingold
dalam Trottier dan
Fuchs (2014: 6) menjelaskan bahwa komunitas virtual dapat menimbulkan perasaan
afiliasi. Dengan demikian, ketika ada satu orang membuat postingan, tulisan
maupun cuitan, orang lain dapat berpendapat yang sama. Dengan fitur share atau berbagi dan screencapture, orang lain dengan mudah
dapat membagikan pendapat atau postingan orang tersebut sehingga akan semakin
banyak orang yang membicarakan dan menjadi viral.
Viralnya suatu postingan atau pendapat orang lain
terhadapa isu-isu keagamaan, terorisme dan radikalisme adalah semakin banyak
orang yang peduli dan sadar tentang seberapa brutal dan buruknya intoleransi,
radikalisme dan terorisme. Meskipun begitu tidak bisa dipungkiri bahwa pengguna
yang pro dan kontra akan selalu ada seperti kejadian 212 beberapa waktu lalu.
Tetapi, justru perbedaan pendapat itu yang akhirnya menjadi media kontrol di
masyarakat. Dengan adanya pendapat yang berbeda, masyarakat akan mempunyai
banyak sumber informasi sehingga dapat mempertimbangkan isu tersebut dari
perspektif yang berbeda-beda. Hal inilah yang menjadikan pardigma masyarakat
akan lebih terbuka dengan berbagai sudut pandang pendapat tentang isu-isu
keagamaan. Kedepannya, masyarakat akan lebih aktif dan partisipatif sehingga
menjadikan pengetahuan dan perbaikan sikap terhadap isu intoleransi,
radikalisme, terorisme dan isu keagamaan yang lainnya.
Daftar Pustaka
Beaumont, Peter. 2011. Diambil dari https://www.theguardian.com/world/2011/feb/25/twitter-facebook-uprisings-arab-libya.
Diakses pada 8 Januari 2018.
Trottier, Daniel and Christian Fuchs, eds. 2014. Social media, politics and the state. Protests, revolutions, riots, crime and policing in the age of Facebook, Twitter and YouTube. New York: Routledge.
Trottier, Daniel and Christian Fuchs, eds. 2014. Social media, politics and the state. Protests, revolutions, riots, crime and policing in the age of Facebook, Twitter and YouTube. New York: Routledge.
Yudhianto. 2017. 132 Juta Pengguna Internet
Indonesia, 40% Penggila Medsos. Diambil dari https://inet.detik.com/cyberlife/d-3659956/132-juta-pengguna-internet-indonesia-40-penggila-medsos.
Diakses pada 7 Januari 2018.
Komentar
Posting Komentar